Minggu, 12 Juni 2016



Yovita Chyka P.Blolong
13115051
Kelas A
SUKSES TERBESAR DALAM HIDUPKU

Sukses merupakan sebuah ukuran dengan satuan relatif. Sukses pada perspektif setiap orang pastilah berbeda-beda, tergantung dari tujuan yang akan diraihnya. Pada intinya sukses adalah dapat mencapai tujuan dengan jalan yang benar, bukan sukses namanya jika proses yang dilaluinya tidak benar. Proses lebih penting dari pada hasil, dengan menghargai proses maka seseorang akan menyadari betapa berharga setiap detik yang dilalui untuk mencapai kesuksesan.
Bicara sukses berarti bicara ukuran. Sebuah ukuran yang akan digunakan untuk mengukur sukses itu sudah tercapai atau belum. Ukuran tersebut akan berbeda-beda tiap orangnya. Seorang karyawan mungkin mematok ukuran suksesnya melalui pencapaian karir. Seorang mahasiswa mungkin menentukan ukuran suksesnya dengan perolehan IPK-nya. Seorang pengusaha merasa sukses ketika omzet penjualannya mencapai angka tertentu, dan sebagainya. Dengan demikian, sukses itu bisa dibilang subjektif. Lain orang, lain pula ukurannya.
Bagi saya, sukses dalam hidup itu bersifat diskrit, terdiri dari elemen-elemen berbeda dan kadang tidak berhubungan. Dengan demikian, seseorang sebenarnya telah, sedang, dan akan terus mengalami banyak kesuksesan dalam hidupnya. Tinggal bagaimana persepsi seseorang dalam menilai setiap peristiwa dalam hidupnya, apakah dinilai sebagai sebuah kesuksesan atau sebaliknya. Masalahnya, sering kali ukuran sukses itu adalah sesuatu yang terlalu mainstream. .
Kekayaan, jabatan, karir, dan status sosial seringkali menjadi ukuran utama kesuksesan seseorang. Padahal, seseorang bisa saja membuat ukuran sukses yang sederhana. Bagi mahasiswa misalnya, tidak menyontek dalam ujian adalah kesuksesan. Bagi seorang karyawan, mampu menyelesaikan setiap tugasnya dengan baik juga merupakan kesuksesan. Bagi saya, sukses terbesar adalah ketika saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Terdengar klise memang, tetapi tidak jika dipahami lebih dalam. Bagi saya, ukuran sukses yang cenderung mainstrem tidaklah masalah. Namun, semata-mata menjadi sukses dengan ukuran mainstream saja rasanya ada yang kurang. Ibarat sayur kurang garam, kurang sedap dirasa. Oleh sebab itu, menambahkan bumbu “bermanfaat bagi orang lain” akan menambah sedap kesuksesan tersebut.
Sukses merupakan suatu keberhasilan yang disertai dengan rasa syukur kepada Tuhan semesta alam yang telah memberikan segala nikmat untuk kita. Memandang kesuksesan sama dengan memandang kegagalan. Sukses dan gagal adalah seperti dua sisi dalam satu koin yang sama. Setiap usaha bisa saja menjadi sukses jika kita menikmati dan mensyukurinya. Kegagalan juga bisa dikatakan sukses jika kita bangkit dan berani untuk kembali gagal. Setiap orang memiliki jatah sukses dan gagal yang sama. Selagi kuat dan mampu lebih baik kita menghabiskan jatah gagal kita dimasa muda, jangan dimasa tua, apalagi jika kegagalan harus dibawa mati. Bagi orang yang tidak bisa bersyukur maka setiap suksesnya bisa menjadi gagal. Orang yang sulit bersyukur tidak akan pernah bisa merasa bahagia atas keberhasilan yang telah diraihnya sehingga ia tidak akan bisa menemukan kesuksesan yang sesungguhnya.
Jika dalam kehidupan seseorang itu berisi kesuksesan-kesuksesan sederhana yang berbeda-beda, maka pertanyaan tentang “sukses terbesar dalam kehidupan” akan menjadi pertanyaan yang cukup menantang. Mana yang menjadi sukses terbesar? Tidak menyontek saat ujiankah? Lulus dengan IPK cum laude-kah? Memiliki karir yang baguskah? Atau yang mana? Lagi-lagi suatu hal yang subjektif.Memiliki image yang baik dan mampu bersosialisasi dalam masyarakat adalah sebuah keberhasilan yang menunjukan bahwa setidaknya saya telah mampu menerapkan pembelajaran hidup bersama yang ada pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun jika setiap detik disyukuri maka setiap detiknya adalah kesuksesan.
Sukses yang besar dalam hidup adalah ketika saya bisa membuat orang-orang disekitarku tersenyum dan merasa terbantu dengan kehadiran saya. Semakin banyak orang yang dibuat tersenyum bahagia maka semakin besar ukuran sukses bagi saya. Salah satu usaha untuk membuat orang-orang disekitar tersenyum adalah dengan menjadikan diri sendiri bermanfaat. Bukan berarti dimanfaatkan tetapi memberikan manfaat kepada orang lain. Banyak hal yang bisa dikatakan bermanfaat, salah satunya adalah dengan berbagi ilmu yang telah didapatkan. Di dunia pendidikan jika kita hanya mendengar maka kita akan cepat lupa, jika kita melihat maka kita akan ingat, jika kita berbuat maka kita akan bisa melakukan, tapi jika kita berbagi maka kita akan ingat dan akan bisa. Berbagi akan membuat kita selalu hidup walaupun waktu telah berlalu meninggalkan kehidupan. Menjadikan asas kebermanfaatan bagi orang lain sebagai pondasi kesuksesan akan menambah kokoh kesuksesan itu sendiri. Sebaliknya, menafikannya akan membuat bangunan kesuksesan itu berpotensi runtuh sewaktu-waktu. Saya merasakan betul hal ini ketika berstatus sebagai mahasiswa
Menjadi mahasiswa, apalagi di jurusan  Pendidikan Matenatika  dan perguruan tinggi swasta yang favorit adalah sebuah kesuksesan tersendiri bagi saya. Hal ini ditambah kenyataan bahwa kesempatan untuk berkuliah adalah sesuatu yang agak langka bagi sebagian orang di negeri ini. Pada saat itulah, nilai sesungguhnya dari kesuksesan itu diuji. Seberapa bermanfaatkah saya ketika menjadi mahasiswa? Apalagi, menjadi mahasiswa adalah momentum yang sangat tepat dalam melatih diri untuk menjadi bermanfaat bagi sesama.
Selanjutnya, bagian terpenting dari sebuah kesuksesan yang bermanfaat, menurut saya, adalah usaha seseorang dalam menjadikan kesuksesan itu bermanfaat, bukan hasilnya. Maksudnya, seberapa terasa manfaat dari sebuah kesuksesan bagi sesama itu penting, namun usaha dan proses menuju ke arah itu justru lebih penting. Sebagaimana petuah yang sering disampaikan, “yang penting itu prosesnya, bukan hasilnya”, maka begitu pula berlaku dalam hal ini. Dengan demikian, sejauh mana usaha saya untuk menjadikan kesuksesan yang telah diraih bisa dinikmati pula oleh sesama merupakan bagian yang saya anggap paling penting. Adapun masalah hasil dari usaha itu, biarlah orang lain yang menilai.
Dengan menyadari hal ini, saya termotivasi untuk selalu berbuat yang terbaik tanpa sibuk memikirkan hasilnya. Saya tidak mengatakan bahwa hasil itu tidaklah penting. Hasil itu penting, karena hal itulah yang biasanya kasat mata dan bisa dinikmati oleh orang lain. Akan tetapi, saya berkeyakinan bahwa hasil terbaik akan lahir dari usaha yang terbaik pula. Dengan melakukan yang terbaik, maka hasil yang terbaik tinggal masalah waktu. Oleh karena itu, lakukanlah yang terbaik dalam upaya menjadikan kesuksesan kita bermanfaat bagi sesama, maka manfaat terbaik dari kesuksesan kita itu akan benar-benar bisa dirasakan oleh sesama.
Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya mengajukan sebuah definisi tentang sukses. Menurut saya, sukses adalah ketika Anda bisa bermanfaat bagi orang lain. Kata “ketika” yang merupakan preposisi waktu, menandakan bahwa sukses bisa terjadi kapan saja, tidak ada batasan waktu tertentu. Satu-satunya yang menjadi tolok ukur adalah “bermanfaat bagi orang lain”. Oleh karena itu, setiap kali Anda bisa bermanfaat bagi orang lain, setaip kali itu pula Anda telah sukses. Demikianlah, kalimat ringkas tersebut selain mampu mendefinisikan kata “sukses” itu sendiri, juga mampu menjawab pertanyaan: apakah yang menjadi sukses terbesar dalam hidupmu?

YOVITA CIKA P.BLOLONG
NO.REGIS :13115051



Tidak ada komentar:

Posting Komentar